Senin, 15 Juli 2013
Menjual Pariwisata Di Maluku
Sebuah kenyataan bahwa Indonesia merupakan negara besar di Dunia yang kaya akan keanekaragaman sumberdaya alam dan budaya. Ketika berbicara tentang potensi pariwisata Maluku, pikiran kita langsung tertuju pada bentangan laut yang indah, pasir putih dan ombak yang menggulung. Oleh sebab itu, berangkat dari kesadaran akan potensi besar yang dimiliki oleh daerah ini hendaknya pemerintah daerah dan instansi yang berkaitan dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Ekonomi kreatif memiliki rencana dan program yang terarah untuk mempromosikan daerah ini menjadi destinasi wisata.
Sebagai Menparekraf, Marie Elka tak henti-hentinya berupaya untuk memajukan pariwisata dan ekonomi kreatif indonesia. Bahkan pada akhir tahun 2012 dalam Pekan Produk Kreatif Indonesia 2012 beliau menyebarkan virus jalan-jalan melalui foto dan tulisan. Tak dapat dipungkiri bahwa foto dan tulisan tentang keindahan suatu daerah dapat menjadi magnet wisata yang positif. Hal ini mulai berkembang di kalangan anak muda yang mengabadikan perjalan wisata berupa foto dan tulisan di berbagai blog maupun media sosial lainnya. Lewat foto, film pendek atau video, tulisan dan media sosial, beberapa tujuan wisata di daerah-daerah tertentu diangkat dan diulas dengan begitu menarik sehingga menimbulkan efek promosi yang luar biasa dengan biaya promosi yang minim bahkan nyaris tidak ada. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai kluster dalam industri kreatif, kluster fotografi, film, dan video tak dapat dipisahkan dari kesuksesan sebuah destinasi wisata.
Kluster Ekonomi Kreatif Penunjang Pariwisata
Inggris, Korea, Italy dan beberapa negara di Dunia merupakan kisah sukses yang mendulang wisatawan lewat industri kreatif. Tak dapat dipungkiri, tokoh James Bond, Mr. Bean dan film-film lainnya yang mengambil setting negara Inggris turut menaikkan jumlah wisatawan ke Negeri Ratu Elizabeth tersebut. Kita mungkin masih belum lupa film Winter Sonata pada tahun 1999. Film ini sangat fenomenal sebagai film serial korea yang banyak menguras air mata dan emosi penonton sehingga berimbas pada pengakuan dunia atas untuk industri perfilman negara tersebut. Bahkan fenomena terakhir yang masih hangat diperbincangkan adalah wabah Gangnam Style dari korea yang menghipnotis hampir seluruh penduduk dunia. Hal ini merupakan sebagian contoh kecil bagaimana kekuatan ekonomi kreatif jika di kemas dan dijual dengan baik, mampu menaikkan ranking dan memperkenalkan sebuah negara dalam waktu singkat.
Cerita menarik dari Korea adalah bahwa industri kreatif mampu menyumbang 35 trilyun rupiah pada pendapatan negara tahun 2011. Diyakini bahwa angka tersebut akan lebih tinggi lagi tahun 2012 karena ditunjang juga dengan kluster kreatif lain seperti game dan permainan interaktif. Bahkan saat ini, istilah negara ginseng mulai bergeser menjadi negara dengan icon baru yaitu K-Pop. Istilah baru K-pop seolah menjadi trendsetter bagi generasi muda saat ini. Di indonesia, mulai dari film korea yang laris manis digemari dan dipuja hingga grup musik boyband dan girl band yang dijadikan kiblat banyak pemusik di Indonesia. Apapun yang berbau K-pop dapat dijual dengan laris manis.
Bukan pekerjaan yang mudah untuk membangun citra dan memiliki icon tertentu yang dapat menjadi brand identik sebuah negara. Pemerintah Korea membutuhkan belasan tahun untuk mempersiapkan sumber daya manusia agar dapat menjadi penggerak ekonomi kreatif yang diyakini sebagai industri yang tidak akan goyah walaupun terjadi krisis ekonomi dunia. Mereka menyekolahkan, memberi beasiswa, mendukung dan mensupport semua aktivitas rakyatnya dalam bidang seni. Para pelajar dan pengajar diberi ruang seluas-luasnya untuk menuntut ilmu di negara-negara maju karena diharapkan akan kembali ke tanah air dengan membawa konsep kreatif yang dapat di padu-padankan dengan nilai-nilai lokal daerahnya. Pemerintah korea menyadari jelas keterbatas sumber daya alam yang tidak terbarukan serta minimnya wisata alam sehingga harus segera memiliki sumber devisa lain yang dapat di up grade dan terus dikembangkan serta berpotensi eksport. Hampir semua artis korea memiliki dasar pendidikan yang baik. Rata-rata mereka adalah jebolan universitas dengan gelar S1. Hampir seluruh universitas di Korea memiliki jurusan seni sehingga dalam berkesenian dan berkreativitas, mereka memiliki standar sebelum akhirnya layak untuk di jual sebagai sebuah industri.
Kita tentu masih ingat ketika aktris dunia Julia Robert syuting film eat, pray and love di Bali. Film ini makin mengukuhkan citra pariwisata Bali sebagai destinasi wisata berskala dunia. Indonesia semakin dikenal dan Bali lah yang paling diuntungkan karena jumlah turis semakin meningkat setelah film tersebut ditonton jutaan orang. Pulau Nami di Korea menjadi sangat terkenal dan dikunjungi ribuan turis sebagai tempat disyutingnya film Winter Sonata. Padahal dalam kenyataannya, pulau tersebut tidak memiliki daya tarik alam yang bombastis atau luar biasa.
Untuk skala nasional, Laskar Pelangi merupakan sebuah novel yang sukses menjadikan pantai Tanjung Tinggi di Bangka Belitung mendulang wisatawan baik dalam negeri maupun wisatawan asing. Ribuan turis tersedot cerita dari sebuah novel yang pada akhirnya di filmkan tentang masa kecil Ikal dan teman-temannya. Hal tersebut membuktikan lagi bahwa industri kreatif jika dikelola dengan baik, mampu memberikan kontribusi yang tidak sedikit pada pendapatan daerah.
Daerah-daerah lain yang sudah lama menjadikan industri kreatif sebagai andalah adalah Bandung dan Jogja. Daerah-daerah ini pada akhirnya memetik hasil yang luar biasa dalam jumlah wisatawan sehingga sering menjadi kiblat industri kreatif di Indonesia maupun tingkat Asia Pasifik. Bahkan Bandung terpilih sebagai contoh kota kreatif se-Asia Pasifik selama empat tahun berturut-turut.
Jember merupakan daerah di Indonesia yang mulai melirik kluster kreatif sebagai icon dengan mempresentasikan JFC atau Jember Fashion Carnaval selama tiga tahun belakangan ini. Kegiatan di Jember ini, mulai diikuti oleh Kutai Kertanegara dengan fashion carnaval pada tahun 2012. Bahkan beberapa daerah mulai mencari format yang pas dan sesuai dengan kearifan lokal daerahnya masing-masing dalam membuat sebuah event berskala nasional secara berkala atau rutin sehingga menjadi event tahunan yang memiliki daya tarik wisatawan.
Industri kreatif dan pariwisata adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Di daerah yang industri kreatifnya menonjol akan berpotensi untuk mendatangkan banyak wisatawan dan demikian juga sebaliknya, daerah-daerah yang memiliki pariwisata yang luar biasa akan berimbas pada perkembangan industri kreatifnya yang luar biasa.
Pengelolaan Ekonomi Kreatif Di Indonesia
Pada akhirnya, disadari dan tak dapat dipungkiri bahwa kluster kreatif jika di kembangkan dan dikelola dengan serius akan menjadi sumber devisa yang tidak sedikit bagi suatu daerah atau negara. Menurut Departemen Perdagangan Republik Indonesia dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif 2025, Ekonomi kreatif sendiri memiliki empat belas kluster yang terbagi atas (1). Advertising dan periklanan, (2) arsitektur, (3) kerajinan, (4) pasar barang seni, (5) desain, (6) fashion, (7) video, film dan fotografi, (8) permainan interaktif, (9)musik, (10) seni pertunjukan, (11) penerbitan dan percetakan, (12) layanan komputer dan piranti lunak, (13) televisi dan radio, (14) riset dan pengembangan.
Dalam konteks kebijakan industri masa kini, negara berkembang sudah tidak mungkin mengandalkan daya saingnya di bidang industri manufaktur dengan memanfaatkan keunggulan komparatif dalam bentuk biaya tenaga kerja yang murah dan sumber daya alam yang melimpah. Keunggulan komparatif tersebut harus diarahkan dalam bentuk daya saing yang diciptakan berdasarkan nilai keunikan faktor historis, geografis, budaya dan keramahan yang tidak mudah ditiru oleh yang lain. Pengetahuan dan kreativitas adalah kunci bagi penciptaan nilai.
Industri kreatif menimbulkan harapan bagi ekonomi Indonesia terutama karena sektor ini tidak bergantung pada faktor-faktor produksi konvensional seperti sumber daya alam (yang walaupun berlimpah dimiliki Indonesia tapi jumlahnya makin terbatas dan kurang dikelola dengan baik), sumber daya modal/capital (yang tidak mudah didapatkan saat kondisi ekonomi dunia mengalami kontraksi), ataupun teknologi tinggi (yang membutuhkan waktu panjang dan investasi yang besar). Industri kreatif pun tidak selalu padat tenaga kerja, walupun terdapat sub sektor industri ini yang juga dapat menyerap tenaga kerja besar. Industri kreatif mengandalkan sumber daya insani sebagai modal utamanya, terutama kreativitas, keahlian dan talenta individual yang menjadi tulang punggung industri kreatif.
Mengingat banyaknya instansi pemerintah yang terkait dengan berbagai subsektor industri kreatif, diperlukan koordinasi antar instansi. Koordinasi ini memerlukan sebuah institusi yang mampu berkonsentrasi dengan persoalan dalam industri kreatif, sekaligus memiliki hubungan kerja yang baik dengan berbagai instansi tersebut . selain itu, mengingat besarnya peran berbagai aktor- tidak hanya pemerintah- dalam industri kreatif untuk tercapainya kesuksesan sinergi antara rencana strategis dan implementasi, maka institusi ini harus merupakan sebuah kolaborasi antara cendekiawan (akademisi dan seni budaya), bisnis (dunia usaha dan creative enterpreneurs), dan pemerintah yang disebut kolaborasi triple helix.
Semoga instansi yang berwenang tidak terlambat untuk menemukan format yang tepat untuk menjual keindahan alam Maluku. Pameran, pagelaran budaya dan exhebisi budaya tak akan berarti banyak jika belum memiliki roadmap pariwisata daerah yang jelas dan terukur.
Ambon, 04 Mei 2013
Senin, 12 November 2012
Komunitas Sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Di Bandung
Definisi Komunitas menurut wikipedia adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak".
Komunitas yang sangat beragam dan berjumlah sangat banyak menjadi pemicu berkembangnya industri kreatif di kota Bandung. Hal ini agak berbeda dengan Inggris yang memulai industri kreatif dari industri rumahan (home industry). Disamping itu kota Bandung memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap pendatang dan perubahan. Pemerintah kota Bandung saat ini memberikan perhatian yang lebih pada public area. Banyak taman kota yang dikembalikan ke fungsi awal serta menambah fasilitas umum yang menjadi kebutuhan masyarakat kota Bandung. Hal ini sangat penting, karena menurut Richard Florida (2003), faktor tempat merupakan hal yang esensi untuk pertumbuhan industri kreatif.
Perkembangan industri kreatif di bandung berawal dari usaha masing-masing anggota komunitas kreatif kemudian menjadi besar dan berkembang dengan baik serta menjadi konsumsi dari masyarakat diluar komunitas. Jumlah komunitas kreatif kota Bandung dari hasil studi yang dilakukan oleh Bappeda Kota Bandung berjumlah 5.291 yang terklasifikasi dalam lima belas jenis industri kreatif (10/12/08). Lima belas jenis industri tersebut adalah (1) Jasa Periklanan, (2) Arsitektur, (3) Pasar barang seni, (4) Kerajinan, (5) Desain (6) Mode/Fesyen, (7) Video, film dan fotografi, (8) Permainan Interaktif, (9) Musik, (10) Seni pertunjukan, (11) Penerbitan dan percetakan, (12) Layanan komputer dan Piranti lunak/software, (13) Televisi dan Radio, (14) Riset dan Pengembangan, (15) Kuliner. Jumlah komunitas yang sangat besar ini menjadi hal menarik karena pada akhirnya, komunitas bukan lagi dianggap sebagai tempat berkumpul karena memiliki satu kesamaan tetapi juga dari komunitas itulah bisnis masing-masing anggota dibangun dan berkembang.
Komunitas adalah kekuatan bagi pelaku industri kreatif di kota Bandung. Saat ini terdapat ratusan komunitas kreatif di kota Bandung. Jumlah ini tidak bisa dihitung dengan pasti karena keberadaan anggota komunitas sangat membaur/beririsan satu dengan lainnya.
Rabu, 01 September 2010
Memajukan Perekonomian Daerah Melalui Industri Kreatif

Berbicara tentang industri kreatif adalah berbicara tentang kreatifitas, ketrampilan dan talenta individual sebagai asset utama dalam industri ini. Input pada Industri kreatif adalah ide dan gagasan. Selama satu dekade terakhir, sejumlah negara mulai mengembangkan kebijakan khusus terhadap industri kreatif. Setelah bergulir di Indonesia sejak lima tahun lalu, pembicaraan mengenai potensi ekonomi kreatif semakin banyak dilakukan baik oleh pemerintah, swasta dan oleh pelakunya sendiri. Pemerintah sendiri mulai menyadari bahwa industri kreatif mampu memberikan kontribusi yang besar pada pendapatan negara serta merupakan wujud dari kekuatan ekonomi mikro yang mampu berdiri tegak pada saat gelombang krisis ekonomi menerjang.
Menurut Departemen Perdagangan RI, industri kreatif bertumpu pada ”value creative creation” dan memiliki hak kekayaan intelektual yang berpotensi untuk membuka lapangan kerja sehingga perkembangannya dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap kemajuan masyarakat dan pendapatan negara. Sedangkan menurut data yang dimiliki Departemen Perdagangan, industri kreatif mampu menyumbang pendapatan melebihi sumbangan sektor listrik, gas dan air bersih. Tiga subsektor yang memberikan kontribusi paling besar nasional adalah fashion (30%), kerajinan (23%) dan periklanan (18%). Selain itu, sektor ini mampu menyerap 4,5 juta tenaga kerja dengan tingkat pertumbuhan sebesar 17,6% pada tahun 2006 dan makin meningkat setiap tahunnya. Ini jauh melebihi tingkat pertumbuhan tenaga kerja nasional yang hanya sebesar 0,54%. Namun, sektor ini baru memberikan kontribusi ekspor sebesar 7%, padahal di negara-negara lain, seperti Korsel, Inggris dan Singapura, rata-rata di atas 30%.
Menurut pengklasifikasian industri kreatif terdiri dari lima belas jenis industri yaitu (1) Jasa Periklanan, (2) Arsitektur, (3) Kerajinan, (4) Seni rupa, (5) Desain (6) Mode/Fesyen, (7) Musik, (8) Film, (9) Seni Pertunjukan, (10) Penerbitan, (11) Riset dan Pengembangan, (12) Piranti lunak / software, (13) Televisi dan Radio, (14) mainan dan (15) Videogame. Beragamnya jenis industri kreatif ini pada akhirnya memicu menjamurnya berbagai komunitas. Individu yang berinteraksi dalam lingkungan komunitas memerlukan ekosistem yang mendukung terciptanya individu yang aktif dan kreatif. Sedangkan ekosistem kreatif menurut Charles Landry adalah lingkungan yang memenuhi syarat antara lain pertama, toleransi terhadap perbedaan etnis, ras, agama, dan latar belakang hidup. Toleransi ini didukung dengan keyakinan bahwa setiap orang mempunyai kemampuan (talenta) yang unik dan kreatif. Kedua, ruang terbuka yang memiliki fasilitas listrik dan jaringan internet gratis. Ruang publik alternatif ini memiliki manfaat sebagai pemicu perkembangan ekonomi kreatif di perkotaan.
Kota ambon pada awalnya adalah kota yang toleran dengan segala perbedaan, agama, ras, suku dan bangsa. Pada akhirnya kerusuhan yang telah terjadi bukan saja menghancurkan sarana dan ruang alternatif kota namun turut juga menghancurkan kreatifitas penduduknya. Hanya beberapa pelaku industri yang mampu bertahan dan tetap berkarya karena wilayah tempat tinggal dan berusaha mereka tidak mengalami dampak langsung dari kerusuhan tersebut. Namun saat ini di kota Ambon, mudah bagi kita untuk menemukan para pelaku industri kreatif. Generasi muda yang penuh semangat pembaharuan dapat dengan mudah ditemui dan mereka juga mulai berkreasi dan berinovasi dalam bidang masing-masing. Potensi industri kreatif juga mulai diperhatikan dan mendapatkan pendampingan yang serius dari dinas terkait. Berbegai metode kemitraan dikembangkan dan dikaji agar industri ini bisa berkembang dan maju. Disamping itu, minimnya ruang publik sebagai sarana pemicu ekonomi kreatif tetap harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Ruang publik sangat berguna sebagai sarana berkumpul anggota komunitas. Banyak daerah yang memiliki komunitas yang berprestasi karena didukung oleh ruang publik sebagai sarana mengapresiasi bakat mereka. Disamping itu, ruang publik seharusnya tidak dikenakan bayaran atau tiket masuk karena hal ini akan mengurangi keinginan masyarakat untuk berkumpul dan berkreasi.
Kendala yang dihadapi SDM kreatif Indonesia menurut Departement Perdagangan Republik Indonesia (2009), saat ini terbagi dalam tiga bagian besar:
1. SDM kreatif berbasis artistik belum memahami konteks kreativitas di era industri kreatif secara menyeluruh. Sehingga masyarakat beranggapan bahwa dunia artistik adalah dunia yang eksklusif dan tidak merakyat.
2. SDM kreatif berbasis non-artistik (sains dan tekhnologi) terlalu mikrosposis dalam melihat keprofesiannya sehingga kadang terlalu mekanistis dalam berpikir sehingga kurang inovatif. Dalam bekerja, orang-orang ini lebih termotivasi bekerja pada perusahaan-perusahaan besar yang membuat mereka tenggelam di dalam rutinitas sehari-hari dan memiliki keterbatasan dalam mengekpresikan kreativitas yang ada di diri mereka.
3. SDM kreatif baik yang berbasis artistik maupun yang non artistik kekurangan sarana untuk bereksperimen dan berekspresi sehingga hasil karya mereka masih kurang kreatif dan kurang inovatif. Akibatnya industri lokal dan internasional belum melihat kepentingan yang besar untuk mengadopsi ide-ide baru dari mereka.
Namun terlepas dari semua kesulitan yang menghadang, potensi yang ada di kota Ambon untuk menunjang pengembangan industri kreatif terutama industri kerajinan, seni rupa, musik dan riset dan pengembangan sangatlah besar: beberapa diantaranya adalah : ketersediaan bahan baku yang melimpah ruah untuk industri kerajinan tangan, dikenal sebagai kota yang memiliki banyak seni budaya, terdapat ribuan pulau dan masing-masing pulau memiliki tarian, nyanyian serta bahasa yang berbeda, mamiliki generasi muda yang penuh semangat dan memiliki keinginan kuat untuk memajukan daerahnya, memiliki sumberdaya pendukung bagi pengembangan industri kreatif, serta menjadi daerah tujuan wisata. Terdapat empat ratus biota laut yang hanya bisa ditemui di laut Maluku.
Semua kendala itu bukanlah menjadi hal yang mendasar jika masyarakat Ambon sendiri memiliki pola pikir kreatif seperti yang diungkapkan oleh Daniel. L. Pink yaitu : Not just function, but also DESIGN, Not just argument, but also STORY, Not just focus, but also SYMPHONY, Not just logic, but also EMPHATY, Not just seriousness, but also PLAY, Not just accumulation, but also MEANING. Jadi mulai saat ini, mulailah berpikir kreatif dan inovatif jika tidak ingin tertinggal.
Sail Banda Sebagai Momentum Penerapan City Branding Maluku

Kita tentu pernah mendengar Malaysia Truly Asia dari Malaysia, New Esia dari Singapura, Jogja Never Ending Asia dari Jogja, Enjoy Jakarta dari Jakarta, Shanti, Shanti, Shanti dari Bali yang sangat identik dengan citra kedamaian dari pulau dewata dan Bandung Creative City yang berhasil membawa semangat Bandung sebagai kota paling kreatif di Indonesia hingga tataran internasional. Bandung terpilih sebagai proyek percontohan se-Asia pasifik yang pencanangannya dilakukan di Tokyo Jepang. Proyek Bandung Creative City (BCC) ini berlangsung selama tiga tahun atas dukungan dari pemerintah pusat dan lembaga dunia. Saat ini seluruh elemen masyarakat, akademisi, swasta dan pemerintah daerah yang tergabung dalam Forum Pemasaran Kota Bandung berupaya keras memasarkan kota Bandung dengan menonjolkan kearifan dan potensi lokal.
Apa yang dilakukan oleh negara atau kota tersebut merupakan salah satu strategi untuk memiliki positioning yang kuat dan dapat dikenal luas. Banyak negara yang sejak dulu menerapkan city branding bagi negaranya. Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga, dari dulu rajin memborbardir kita dengan iklannya di hampir semua televisi swasta yang kita tonton. Beberapa tahun terakhir, banyak kota-kota di Indonesia mulai sadar akan pentingnya “city branding”. Penerapan ini memiliki tujuan agar kota atau daerahnya dikenal lewat potensi dan kearifan lokal lewat penciptaan positioning yang berbeda dari kota atau daerah lain hingga pada akhirnya menghasilkan ekuitas merek daerah yang kuat pada penduduk, pengunjung dan masyarakat umum. Indonesia sendiri menjadikan visit Indonesia sebagai tagline ketika tahun kunjungan wisata dicanangkan tahun 2008. Program ini pada akhirnya dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung sehingga pemerintah memutuskan untuk melanjutkan terus mempromosikan Indonesia lewat tagline visit Indonesia.
City branding adalah identitas, simbol, logo atau merek yang melekat pada suatu daerah. Hal ini dilakukan dengan lebih dulu memetakan kekuatan dan potensi yang ada pada daerah tersebut. Pemetaan dapat dilakukan dengan survei pendapat pada masyarakat daerah tersebut dan orang luar yang memiliki keterkaitan dengan daerah tersebut sehingga akan mendapatkan atribut-atribut kunci yang menonjol dari kota tersebut. Selain itu, melakukan analisis daya saing baik di level makro maupun mikro daerah itu sendiri serta mengembangkan logo dan slogan yang menjadi merek daerah tersebut. Merek atau brand sebuah daerah adalah merupakan janji daerah kepada publik.
Layaknya sebuah perusahaan, Pemerintah daerah diibaratkan CEO, oleh sebab itu sebagai pengelola merek hendaknya memperhatikan hal-hal yang bisa menjadikan merek tersebut dikenal, bertahan dan melegenda. Banyak hal positif yang bisa didapatkan dengan penerapan city branding yang tepat. Untuk Maluku, keuntungan yang bisa didapat diantaranya adalah:
1. Maluku dapat dikenal luas dan memiliki persepsi yang baik
2. Maluku dianggap sebagai tujuan-tujuan khusus. (Banda Neira sebagai lokasi penyelaman yang merupakan salah satu taman laut terbaik di dunia, selain itu memiliki 400 biota laut yang tidak ada dibelahan dunia manapun).
3. Maluku tepat sebagai tempat investasi.
4. Maluku juga tidak lagi identik dengan kerusuhan yang membuat citra Maluku terpuruk.
Perhelatan Sail Banda yang menjadi event akbar di Indonesia terutama di Maluku telah usai digelar. Dengan mengangkat tema “small islands for our future”, kegiatan ini memikul banyak harapan dari masyarakat Maluku, diantaranya memberi manfaat untuk membangun kejayaan bahari Indonesia khususnya Maluku serta melahirkan citra baru yang positif bagi Maluku.
Daerah yang memiliki julukan seribu pulau ini memiliki banyak hal untuk ditawarkan dan layak untuk mendapatkan perhatian. Berdasarkan jajak pendapat pada website provinsi Maluku, dapat dilihat bahwa sebanyak 62,49% (pada tanggal 31 Agustus 2010) melihat Maluku sebagai daerah kelautan. Pendapat ini sangat benar, sebagai daerah yang memiliki ribuan pulau dan pantai yang terbentang luas, siapapun akan jatuh hati dan tak akan melupakannya. Menyulap pantai-pantai di Maluku agar memiliki pengunjung sebanyak pantai Kuta di Bali merupakan tugas yang tidak mudah. Perlu bertahun-tahun kerja keras dari pemerintah daerah dan rakyatnya, langkah yang terencana dan penerapan strategi yang berbeda dalam memasarkan Maluku dibandingkan pesaing atau daerah lain.
Walaupun “Sail Banda 2010” adalah proyek bersama pemerintah pusat dan daerah, tetapi keuntungan yang paling besar akan didapatkan oleh Maluku sebagai penyelenggara. Maluku telah menjadi pusat perhatian dunia dan efek word of mouth dari kesuksesan event ini dapat dimanfaatkan pemerintah daerah untuk menggali dan meningkatkan potensi yang ada sebagai keuntungan bagi pembangunan daerah. Dengan citra baru serta kerja keras seluruh elemen masyarakat, maka Maluku dapat bangkit dan bersaing dengan daerah-daerah lainnya
Pemerintah daerah harus lebih proaktif dalam memasarkan daerahnya karena cara memasarkan daerah tidak hanya sekedar mengikuti kegiatan exhibition, tourism exhibition atau investment exhibition yang telah dijadwalkan secara regular di beberapa kota atau negara-negara lain setiap saat. Jika suatu daerah dapat mengelola serta memanfaatkan keunikan dan perbedaan serta kearifan lokal yang dimiliki secara baik dengan penerapan strategi yang tepat maka daerah tersebut akan memiliki ekuitas merek yang tinggi di mata penduduk lokal dan masyarakat luas.
Memasarkan Maluku bukan bertujuan untuk mendatangkan sebanyak-banyaknya wisatawan, namun memasarkan Maluku adalah soal menjadikan Maluku berbeda dan unik. Maluku yang unik menjadikan Maluku dikenal dan Maluku yang berbeda menjadikan Maluku tak mudah dilupakan. oleh sebab itu, janganlah Maluku hanya dikenal dan menjadi sorotan ketika sail Banda berlangsung dan tidak lagi diperhatikan setelah itu hanya karena pemerintah daerah tidak menggunakan strategi yang tepat dalam mempromosikan kehebatan Maluku.
Kamis, 11 Februari 2010
Private Label Sebagai Strategi Bersaing Peritel
Penelitian tentang private label telah menjadi daya tarik yang substansial terhadap para peneliti dibidang pemasaran selama hampir tiga dekade dan merupakan salah satu strategi pemasaran penting yang dikembangkan oleh pengecer selama tiga puluh tahun terakhir.
Sejarah private label mengalami banyak perubahan. Pertama kali hadir pada toko bahan makanan di United State dan dijual pada toko-toko Great Atlantic dan Pacific Tea Company (dikenal kemudian sebagai A&P) yang didirikan pada tahun 1863. Selama satu setengah abad sejumlah produk dengan konsep private label sukses diperkenalkan. Selama resesi ekonomi tahun 1970-an, kehadiran private label dengan harga yang lebih murah, kualitas dasar dan kemasan yang minimal dapat menarik perhatian konsumen.
Banyak definisi untuk mengistilahkan private label, termasuk diantaranya own brand, store brands, house brand, dan retailer brands. Konsep ini sudah lama dikenal di negara-negara Eropa dan sejak tahun 1990 dibanyak negara maju, private label kadang menjadi premium brands yang sejajar bahkan lebih unggul secara kualitas dibandingkan merek milik produsen).
Banyak peritel besar yang menyadari bahwa kelangsungan keunggulan kompetitif dapat mereka capai melalui pengembangan private label brands atau barang yang diberi merek oleh peritel. Produk dengan merek milik peritel dikenal sebagai private label atau home brand atau store brand. Menurut Keller, private label adalah barang yang dipasarkan oleh peritel dan anggotanya dari rantai distribusi yang ada. Secara umum, private label dapat didefinisikan sebagai serangkaian produk yang dikemas khusus dalam kemasan yang memiliki identitas tempat yang menjualnya dan hanya bisa di peroleh di tempat itu. Itulah sebabnya saat ini dalam industri ritel di seluruh dunia, peritel tidak hanya menjual produk milik produsen tetapi juga terdapat produk dengan merek milik peritel sendiri. Kebalikan dengan private label, merek produsen menurut Levy&Weitz adalah produk yang didesain, diproduksi dan dipasarkan oleh produsen dengan memakai merek sendiri biasanya dikenal sebagai merek produsen (manufactures brands) atau dapat juga disebut national brands.Dalam hal ini produsen bertanggung jawab terhadap pengembangan dan pemasaran produk tersebut.
Sejarah private label mengalami banyak perubahan. Pertama kali hadir pada toko bahan makanan di United State dan dijual pada toko-toko Great Atlantic dan Pacific Tea Company (dikenal kemudian sebagai A&P) yang didirikan pada tahun 1863. Selama satu setengah abad sejumlah produk dengan konsep private label sukses diperkenalkan. Selama resesi ekonomi tahun 1970-an, kehadiran private label dengan harga yang lebih murah, kualitas dasar dan kemasan yang minimal dapat menarik perhatian konsumen.
Banyak definisi untuk mengistilahkan private label, termasuk diantaranya own brand, store brands, house brand, dan retailer brands. Konsep ini sudah lama dikenal di negara-negara Eropa dan sejak tahun 1990 dibanyak negara maju, private label kadang menjadi premium brands yang sejajar bahkan lebih unggul secara kualitas dibandingkan merek milik produsen).
Banyak peritel besar yang menyadari bahwa kelangsungan keunggulan kompetitif dapat mereka capai melalui pengembangan private label brands atau barang yang diberi merek oleh peritel. Produk dengan merek milik peritel dikenal sebagai private label atau home brand atau store brand. Menurut Keller, private label adalah barang yang dipasarkan oleh peritel dan anggotanya dari rantai distribusi yang ada. Secara umum, private label dapat didefinisikan sebagai serangkaian produk yang dikemas khusus dalam kemasan yang memiliki identitas tempat yang menjualnya dan hanya bisa di peroleh di tempat itu. Itulah sebabnya saat ini dalam industri ritel di seluruh dunia, peritel tidak hanya menjual produk milik produsen tetapi juga terdapat produk dengan merek milik peritel sendiri. Kebalikan dengan private label, merek produsen menurut Levy&Weitz adalah produk yang didesain, diproduksi dan dipasarkan oleh produsen dengan memakai merek sendiri biasanya dikenal sebagai merek produsen (manufactures brands) atau dapat juga disebut national brands.Dalam hal ini produsen bertanggung jawab terhadap pengembangan dan pemasaran produk tersebut.
Pembagian Jenis Ritel
Penjualan secara ritel adalah aktivitas bisnis yang menambah nilai bagi produk dan jasa yang dijual secara langsung pada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi atau keluarga. Kotler juga menyatakan bahwa usaha eceran (retailing) meliputi semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi atau bukan bisnis.
Kotler mendefinisikan peritel atau pengecer sebagai usaha bisnis yang volume penjualannya terutama berasal dari penjualan eceran. Ritel yang fokus pada penjualan barang sehari-hari secara garis besar terbagi dua, yaitu ritel tradisional dan ritel modern. Pengertian ritel tradisional adalah ritel yang sederhana, tempatnya tidak begitu luas, barang yang dijual tidak begitu banyak jenisnya, sistem manajemen masih sederhana, tidak menawarkan kenyamanan berbelanja dan masih ada proses tawar menawar harga dengan penjual. Sedangkan ritel modern adalah sebaliknya, menawarkan tempat yang luas, barang yang dijual banyak jenisnya, sistem manajemen terkelola dengan baik menawarkan kenyamanan berbelanja, harga sudah tetap (fixed) dan adanya sistem swalayan.
Dapat disimpulkan bahwa letak perbedaan ritel tradisional dan modern adalah dalam luas luas toko, lini produk, bentuk kepemilikan, penggunaan fasilitas dan juga sistem manajemen yang berlaku.
Kotler mendefinisikan peritel atau pengecer sebagai usaha bisnis yang volume penjualannya terutama berasal dari penjualan eceran. Ritel yang fokus pada penjualan barang sehari-hari secara garis besar terbagi dua, yaitu ritel tradisional dan ritel modern. Pengertian ritel tradisional adalah ritel yang sederhana, tempatnya tidak begitu luas, barang yang dijual tidak begitu banyak jenisnya, sistem manajemen masih sederhana, tidak menawarkan kenyamanan berbelanja dan masih ada proses tawar menawar harga dengan penjual. Sedangkan ritel modern adalah sebaliknya, menawarkan tempat yang luas, barang yang dijual banyak jenisnya, sistem manajemen terkelola dengan baik menawarkan kenyamanan berbelanja, harga sudah tetap (fixed) dan adanya sistem swalayan.
Dapat disimpulkan bahwa letak perbedaan ritel tradisional dan modern adalah dalam luas luas toko, lini produk, bentuk kepemilikan, penggunaan fasilitas dan juga sistem manajemen yang berlaku.
Senin, 07 September 2009
Dari Seorang Waitress Menjadi CEO Terkemuka

Ketika membaca kisah tentang seorang wanita hebat bernama Brenda C. Barnes, saya terinsirasi untuk sharing tulisan ini.
Wanita sukses ini berpendapat bahwa sukses tidak bisa diraih dengan cuma-cuma. Sebuah kesuksesan memang harus diperjuangkan. Orang yang berjuang untuk sukses akan menyadari bahwa proses perjuangan untuk mencapai kesuksesan jauh lebih berat dan ketika kesuksesan itu diraihnya, ia akan mempertahankannya dengan lebih baik dibandingkan orang yang mendapatkan kesuksesan karena faktor lainnya.
Brenda dibesarkan dari keluarga sederhana di Chicago yang menanamkan nilai-nilai kerja keras, rendah hati, mendengarkan pendapat orang dan sikap hidup positif lainnya. Selain itu, pendidikan adalah hal penting yang ditekankan oleh orang tuanya. Pada tahun 1975, ia meraih gelar undergraduate-nya di bidang bisnis dan ekonomi dari Rockford, Illinois Augustana College. Setelah lulus, tak banyak peluang kerja yang bisa didapatkan. Alhasil, sambil mencari prospek pekerjaan yang lebih menarik, Barnes pun rela melakukan pekerjaan apa saja. Mulai menjadi waitress, penyortir surat di kantor pos, dan penjual pakaian.
Dari sana, Barnes akhirnya bisa mengawali karier profesionalnya di Pepsi Co Inc pada 1976 saat ditunjuk sebagai manajer bisnis di Wilson Sporting Goods, satu dari beberapa anak perusahaan Pepsi. Tak mudah menjalankan pekerjaannya karena diskriminasi gender masih sangat kental waktu itu, Barnes berjuang keras untuk berkompetisi dengan kebanyakan karyawan laki-laki. Kerja keras Barnes membuahkan hasil saat dia sukses menduduki jabatan sebagai kepala penjualan. Seiring karier yang mulai menanjak, Barnes pun meneruskan pendidikannya. Dia kemudian menempuh pendidikan di Loyola University. Dari sana, dia berhasil meraih gelar MBA pada 1978. Selepas meraih gelar MBA-nya, karier Barnes tambah cemerlang. Pada 1981, dia dipindah ke anak perusahaan Pepsi lainnya, Frito-Lay.
Di sana dia ditunjuk sebagai wakil direktur pemasaran. Hanya bertahan tiga tahun, Barnes di pindah lagi ke Pepsi pusat. Pada 1988 Barnes diangkat menjadi wakil presiden penjualan nasional dan pemasaran Pepsi. Pada Januari 1992, Barnes diangkat sebagai Presiden Pepsi-Cola South. Di jabatan barunya ini, dia bertanggung jawab mengontrol semua kegiatan manufaktur, penjualan, dan distribusi produk Pepsi di 13 negara yang berada di wilayah selatan Amerika. Loncatan karier Barnes mencapai puncaknya di Pepsi pada 1996 saat ditunjuk sebagai Presiden dan CEO Pepsi-Cola Amerika Utara.Di bawah kepemimpinan Barnes, Pepsi-Cola Amerika Utara sukses meraih penjualan dan keuntungan besar. Barnes dikenal sebagai pemimpin yang mampu membangun identitas merek dagangnya. Pada 1996, perusahaan meraih penjualan USD7,73 miliar dan meraup untung hingga USD1,43 miliar.
Namun, di puncak kesuksesannya tersebut, sebuah keputusan mengejutkan justru dibuat Barnes. Setelah mengingatkan pemimpin perusahaannya bahwa jabatannya di pos tersebut kemungkinan tak akan bertahan lama, dia mengundurkan diri pada 1997 dan secara resmi meninggalkan Pepsi pada akhir tahun. Alasan pengunduran diri Barnes dari perusahaan yang telah dibelanya selama 22 tahun saat itu begitu sederhana, dia hanya ingin memiliki lebih banyak waktu dengan ketiga anaknya yang masih kecil, Jeff, Erin, dan Brian serta suaminya Randall Barness yang juga seorang eksekutif.
Saat menjabat di posisi terakhirnya di Pepsi, Barnes bekerja selama 70 jam dalam seminggu. Dia rata-rata bekerja hingga pukul 03.30 pagi. Pekerjaannya begitu menyita waktu. Belum lagi, dia juga kerap kali harus melakoni perjalanan bisnis.
"Tak ada alasan yang sangat penting yang membuat saya mengambil keputusan itu. Saya hanya tak memiliki banyak waktu bagi keluarga. Saya hanya punya sedikit sekali waktu dengan mereka dan suami saya. Saya hanya ingin mencurahkan 100% waktu saya untuk mereka," terang Barnes mengungkapkan alasan pengunduran dirinya.
Barnes mengakui, sehebat apa pun dia, tetap saja tidak akan mampu memperoleh dua hal sekaligus, yakni pekerjaannya di Pepsi dan keluarganya. Mundurnya Barnes, membuat Pepsi kehilangan. Melalui beragam cara, Pepsi menawarinya untuk kembali lagi dengan beberapa penawaran menarik, seperti dengan jadwal kerja yang lebih fleksibel, mengabaikan absensi, sedikit tanggung jawab, dan lain sebagainya. Tapi, Barnes berkeras menolak. Keputusan menolak tawaran tersebut mengejutkan banyak perusahaan di Amerika. Tapi, dari sana, perusahaan-perusahaan di Amerika mulai tersadar untuk mengubah budaya perusahaan. Dari hanya sekadar mementingkan urusan pekerjaan, perusahaan di Negri Paman Sam itu mulai terbuka untuk mengakomodasi kepentingan pribadi, termasuk keluarga, dari individu-individu yang ada di dalamnya.
Perusahaan jadi arif dengan menerapkan keseimbangan karier dan kehidupan pribadi para karyawannya. Setelah tak lagi disibukkan dengan rutinitas kerja, Barnes menghabiskan waktunya dengan keluarga. Tidak hanya itu, dia juga belajar hal lain yang selama ini luput dia kuasai, memasak, meningkatkan keahlian komputernya, dan kegiatan positif lain. Pendeknya, Barnes seakan menjalani kehidupan lain dari yang selama ini digelutinya.
Tapi, entah memang pada dasarnya seorang wanita yang seolah memang ditakdirkan untuk menjadi seorang wanita karier, pada 2004 Barnes kembali ke dunia bisnis saat direkrut perusahaan manufaktur yang berbasis di Chicago, Sara Lee. Tapi, di tempat barunya ini, Barnes tak perlu berlama-lama meniti karir ke puncak. Tak lama berkiprah di sana, pada Februari 2005, Barnes dipromosikan menjadi Presiden dan CEO Sara Lee. Prestasi dan kemampuan yang telah dipupuk sebelumnya serta merta diakui di tempat barunya. Barnes pun langsung membuktikan kemampuannya. Dia langsung mengadakan perubahan besar sesaat setelah menduduki jabatannya. Salah satunya adalah dengan membuat Sara Lee fokus kepada bisnis makanan, minuman, kebutuhan rumah tangga, dan perawatan tubuh. Bisnis sandang yang juga sejak lama digeluti Sara Lee dihilangkan saat kepemimpinan Barnes.
Awalnya, penjualan atau spin off bisnis sandang agar Sara Lee lebih fokus ke bisnis barang-barang konsumsi disambut negatif pelaku pasar dan pengamat. Barnes mengaku, saat itu adalah waktu-waktu terberatnya di Sara Lee. Namun, perubahan besar yang dilakukannya pada akhirnya memberikan efek positif. Produk-produk andalan Sara Lee seperti, Ambi Pur, Jimmy Dean, Kiwi, Sanex, termasuk roti Sara Lee kini mampu menguasai pasar Eropa dan juga Asia. Sara Lee pun berkembang pesat menjadi perusahaan barangbarang konsumsi terkemuka.
"Saya hanya ingin menunjukkan bahwa perempuan pun bisa memimpin perusahaan dengan baik," ujar Barnes.(Dikutip dari Koran SI/Koran SI/jri).
Langganan:
Postingan (Atom)
Kapitalisme Digital dan Relevansi Pemikiran Marx Pendahuluan Kita mengenal Marx sebagai tokoh sosialis. Dalam bukunya Das Capital, Mar...
-
Penelitian tentang private label telah menjadi daya tarik yang substansial terhadap para peneliti dibidang pemasaran selama hampir tiga deka...
-
perkembangan industri ritel menyebabkan perkembangan private label menjadi fenomena tersendiri sehingga Penelitian tentang private label t...
-
Definisi Komunitas menurut wikipedia adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketert...
